Kamis, 08 Mei 2014

Pendakian Gunung Merbabu



 
http://expetravel.blogspot.com/
Pemandangan setelah Pos IV Sabana I
     Gunung Merbabu, gunung api yang masuk dalam  tipe strato ini memiliki ketinggian sekitar 3.145 meter diatas permukaan laut dan  masuk dalam 4 wilayah administratif yaitu Kabupaten Magelang dilereng sisi barat, Kabupaten Salatiga dilereng sisi timur, Kabupaten Semarang dilereng sisi utara, dan Kabupaten Boyolali dilereng sisi timur.

Gunung Merbabu juga sangat terkenal dikalangan pendaki, terutama yang berada di Jogjakarta dan kota di sekitar wilayah administratif. Namun bagi Anda yang berniat untuk melakukan pendakian Saya sarankan untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapai  kabut tebal, udara dingin dan minimnya sumber air (bahkan tidak ada, hanya tersedia di basecamp pendakian) selain itu  tanaman yang tumbuh di hutan merbabu tidak mendukung untuk dikonsumsi sebagai sarana bertahan hidup.
Untuk jalur pendakian Gunung Merbabu terdiri sebagai berikut :

*Jalur Selo

Jalur Selo banyak dipilih oleh  para pendaki, alasan yang paling utama yaitu  track pendakian yang tidak terlalu curam, mungkin untuk trac curam hanya ada di lokasi tertentu misalnya track masuk pos IV Sabana I dimana saat kondisi hujan sangat menyulikan pendakian, kemudian Pos V Sabana II disini track hampir masuk posisi kemiringan 120 drajat, dan yang terakhir track menuju Puncak Trianggulasi. Namun diawal track pendakian banyak bonus berupa turunan yang membatu saat pendakian, selain itu bagi yang pernah mendaki Gunung Merbabu melewati jalur ini ada jalur yang langsung menghubungkan Pos III ke Pos I sehingga sangat menghemat waktu dan tenaga. Di jalur ini juga sering ditemui hal-hal mistis berupa bayangan-bayangan hitam yang terkadang bersliweranan, selain itu juga aroma bunga Kantil juga tidak luput tercium oleh hidung para pendaki biasanya kejadian ini terjadi di waktu menjelang magrib di track menuju Pos IV Sabana I. Namun ha-hal semacam itu memang di setiap gunung selalu menyimpan misteri masing masing, rasa lelah, dan dingin yang menusuk tulang mungkin akan segera lenyap ketika Anda berhasil menggapai puncak apalagi ditambah anda mendapatkan bonus pemandangan menari berupa Sunrise, Samudra diatas awan, selain itu jika Anda melakukan pendakian saat bersamaan dengan mekarnya Bunga Edelweiss lengkap sudah pemandangan yang disajikan oleh alam kepada Anda. Sungguh indah bukan.

*Jalur Kopeng Thekelan

Jika Anda dari Jakarta bisa naik bus ataupun bus menuju ke Semarang, Yogya, atau Solo. Dilanjutkan dengan bus jurusan Solo-Semarang turun di kota Salatiga, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng. Dari Yogya naik bus ke Magelang, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng. Dari kopeng terdapat banyak jalur menuju ke Puncak, namun lebih baik melewati desa tekelan karena terdapat Pos yang dapat memberikan informasi maupun berbagai bantuan yang diperlukan. Pos Tekelan dapat ditempuh melalui bumi perkemahan Umbul Songo.

Di bumi perkemahan Umbul Songo Anda dapat beristirahat menunggu malam tiba, karena pendakian akan lebih baik dilakukan malam hari tiba dipuncak menjelang matahari terbit. Andapun dapat beristirahat di Pos Thekelan yang menyediakan tempat untuk tidur, terutama bila tidak membawa tenda. Dapat juga berkemah di Pos Pending karena di tiga tempat ini kita bisa memperoleh air bersih. 

*Jalur Wekas 

Jalur ini sangat populer dikalangan para Remaja dan Pecinta Alam kota Magelang, karena lebih dekat dan banyak terdapat sumber air, sehingga banyak remaja yang suka berkemah di Pos II terutama di hari libur. Wekas merupakan desa terakhir menuju puncak yang memakan waktu kira-kira 6-7 jam. Jalur wekas merupakan jalur pendek sehingga jarang terdapat lintasan yang datar membentang. Lintasan pos I cukup lebar dengan bebatuan yang mendasarinya. Sepanjang perjalanan akan menemui ladang penduduk khas dataran tinggi yang ditanami Bawang, Kubis, Wortel, dan Tembakau, juga dapat ditemui ternak kelinci yang kotorannya digunakan sebagai pupuk. Rute menuju pos I cukup menanjak dengan waktu tempuh 2 jam. 

Pos I merupakan sebuah dataran dengan sebuah balai sebagai tempat peristirahatan. Di sekitar area ini masih banyak terdapat warung dan rumah penduduk. Selepas pos I, perjalanan masih melewati ladang penduduk, kemudian masuk hutan pinus. Waktu tempuh menuju pos II adalah 2 jam, dengan jalur yang terus menanjak curam.

Pos II merupakan sebuah tempat yang terbuka dan datar, yang biasa didirikan hingga beberapa puluhan tenda. Pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur Pos II ini banyak digunakan oleh para remaja untuk berkemah. Sehingga pada hari-hari tersebut banyak penduduk yang berdagang makanan. Pada area ini terdapat sumber air yang di salurkan melalui pipa-pipa besar yang ditampung pada sebuah bak.

Dari Pos II terdapat jalur buntu yang menuju ke sebuah sungai yang dijadikan sumber air bagi masyarakat sekitar Wekas hingga desa-desa di sekitarnya. Jalur ini mengikuti aliran pipa air menyusuri tepian jurang yang mengarah ke aliran sungai di bawah kawah. Terdapat dua buah aliran sungai yang sangat curam yang membentuk air terjun yang bertingkat-tingkat, sehingga menjadi suatu pemandangan yang sangat luar biasa dengan latar belakang kumpulan puncak - puncak Gn. Merbabu.

Selepas pos II jalur mulai terbuka hingga bertemu dengan persimpangan jalur Kopeng yang berada di atas pos V (Watu Tulis), jalur Kopeng. Dari persimpangan ini menuju pos Helipad hanya memerlukan waktu tempuh 15 menit. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang di sisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.

*Jalur Kopeng Cunthel

Untuk menuju ke Desa Cuntel berjalan terus mengikuti jalan berbatu hingga ujung. Banyak tanda penunjuk arah baik di sekitar desa maupun di jalur pendakian. Di Basecamp Desa Cuntel yang berada di tengah perkampungan ini, pendaki dapat beristirahat dan mengisi persediaan air. Pendaki juga dapat membeli berbagai barang-barang kenangan berupa stiker maupun kaos.
Setelah meninggalkan perkampungan, perjalanan dilanjutkan dengan melintasi perkebunan penduduk. Jalur sudah mulai menanjak mendaki perbukitan yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Jalan setapak berupa tanah kering yang berdebu terutama di musim kemarau, sehingga mengganggu mata dan pernapasan. Untuk itu sebaiknya pendaki menggunakan masker pelindung dan kacamata.
Setelah berjalan sekitar 30 menit dengan menyusuri bukit yang berliku-liku pendaki akan sampai di pos Bayangan I. Di tempat ini pendaki dapat berteduh dari sengatan matahari maupun air hujan. 

Dengan melintasi jalur yang masih serupa yakni menyusuri jalan berdebu yang diselingi dengan pohon-pohon pinus, sekitar 30 menit akan sampai di Pos Bayangan II. Di pos ini juga terdapat banguanan beratap untuk beristirahat.

Dari Pos I hingga pos Pemancar jalur mulai terbuka, di kiri kanan jalur banyak ditumbuhi alang-alang. Sementara itu beberapa pohon pinus masih tumbuh dalam jarak yang berjauhan.
Pos Pemancar atau sering juga di sebut gunung Watu Tulis berada di ketinggian 2.896 mdpl. Di puncaknya terdapat stasiun pemancar relay. Di Pos ini banyak terdapat batu-batu besar sehingga dapat digunakan untuk berlindung dari angin kencang. Namun angin kencang kadang datang dari bawah membawa debu-debu yang beterbangan. Pendakian di siang hari akan terasa sangat panas. Dari lokasi ini pemandangan ke arah bawah sangat indah, tampak di kejauhan Gn.Sumbing dan Gn.Sundoro, tampak Gn.Ungaran di belakang Gn. Telomoyo.

Jalur selanjutnya berupa turunan menuju Pos Helipad, suasana dan pemandangan di sekitar Pos Helipad ini sungguh sangat luar biasa. Di sebelah kanan terbentang Gn. Kukusan yang di puncaknya berwarna putih seperti muntahan belerang yang telah mengering. Di depan mata terbentang kawah yang berwarna keputihan. Di sebelah kanan di dekat kawah terdapat sebuah mata air, pendaki harus dapat membedakan antara air minum dan air belerang.

Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat terjal serta jurang di sisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.

Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang Gn.Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat sekali. Ke arah barat tampak Gn.Sumbing dan Sundoro yang kelihatan sangat jelas dan indah, seolah-olah menantang untuk di daki. Lebih dekat lagi tampak Gn.Telomoyo dan Gn.Ungaran. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gn.Lawu dengan puncaknya yang memanjang.

 Bagi Anda yang bingung untuk menghabisakan weekend, Saya sarankan untuk berkunjung ke tempat ini, namun jangan lupa untuk memilih waktu terbaik untuk melakukan pendakian. Waktu terbaik untuk melakuakan pendakian yaitu saat musim kemarau, namun tetap siap sedia jaket polar dengan bahan tahan air, karena suhu saat musim kemarau bisa sangat dingin.