| Pemandangan setelah Pos IV Sabana I |
Gunung Merbabu, gunung api yang masuk dalam
tipe strato ini memiliki ketinggian sekitar 3.145 meter diatas permukaan
laut dan masuk dalam 4 wilayah administratif yaitu Kabupaten Magelang
dilereng sisi barat, Kabupaten Salatiga dilereng sisi timur, Kabupaten Semarang
dilereng sisi utara, dan Kabupaten Boyolali dilereng sisi timur.
Gunung Merbabu juga sangat terkenal dikalangan
pendaki, terutama yang berada di Jogjakarta dan kota di sekitar wilayah
administratif. Namun bagi Anda yang berniat untuk melakukan pendakian Saya
sarankan untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapai kabut
tebal, udara dingin dan minimnya sumber air (bahkan tidak ada, hanya tersedia
di basecamp pendakian) selain itu tanaman yang tumbuh di hutan merbabu
tidak mendukung untuk dikonsumsi sebagai sarana bertahan hidup.
Untuk jalur pendakian Gunung Merbabu terdiri
sebagai berikut :
*Jalur Selo
Jalur Selo banyak dipilih oleh para
pendaki, alasan yang paling utama yaitu track pendakian yang tidak
terlalu curam, mungkin untuk trac curam hanya ada di lokasi tertentu misalnya
track masuk pos IV Sabana I dimana saat kondisi hujan sangat menyulikan
pendakian, kemudian Pos V Sabana II disini track hampir masuk posisi kemiringan
120 drajat, dan yang terakhir track menuju Puncak Trianggulasi. Namun diawal
track pendakian banyak bonus berupa turunan yang membatu saat pendakian, selain
itu bagi yang pernah mendaki Gunung Merbabu melewati jalur ini ada jalur yang
langsung menghubungkan Pos III ke Pos I sehingga sangat menghemat waktu dan tenaga.
Di jalur ini juga sering ditemui hal-hal mistis berupa bayangan-bayangan hitam
yang terkadang bersliweranan, selain itu juga aroma bunga Kantil juga tidak
luput tercium oleh hidung para pendaki biasanya kejadian ini terjadi di waktu
menjelang magrib di track menuju Pos IV Sabana I. Namun ha-hal semacam itu
memang di setiap gunung selalu menyimpan misteri masing masing, rasa lelah, dan
dingin yang menusuk tulang mungkin akan segera lenyap ketika Anda berhasil
menggapai puncak apalagi ditambah anda mendapatkan bonus pemandangan menari
berupa Sunrise, Samudra diatas awan, selain itu jika Anda melakukan pendakian
saat bersamaan dengan mekarnya Bunga Edelweiss lengkap sudah pemandangan yang
disajikan oleh alam kepada Anda. Sungguh indah bukan.
*Jalur Kopeng Thekelan
Jika Anda dari Jakarta bisa naik bus ataupun
bus menuju ke Semarang, Yogya, atau Solo. Dilanjutkan dengan bus jurusan
Solo-Semarang turun di kota Salatiga, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng.
Dari Yogya naik bus ke Magelang, dilanjutkan dengan bus kecil ke Kopeng. Dari
kopeng terdapat banyak jalur menuju ke Puncak, namun lebih baik melewati desa
tekelan karena terdapat Pos yang dapat memberikan informasi maupun berbagai
bantuan yang diperlukan. Pos Tekelan dapat ditempuh melalui bumi perkemahan Umbul
Songo.
Di bumi perkemahan Umbul Songo Anda dapat
beristirahat menunggu malam tiba, karena pendakian akan lebih baik dilakukan
malam hari tiba dipuncak menjelang matahari terbit. Andapun dapat beristirahat
di Pos Thekelan yang menyediakan tempat untuk tidur, terutama bila tidak
membawa tenda. Dapat juga berkemah di Pos Pending karena di tiga tempat ini
kita bisa memperoleh air bersih.
*Jalur Wekas
Jalur ini sangat populer dikalangan para
Remaja dan Pecinta Alam kota Magelang, karena lebih dekat dan banyak terdapat
sumber air, sehingga banyak remaja yang suka berkemah di Pos II terutama di
hari libur. Wekas merupakan desa terakhir menuju puncak yang memakan waktu
kira-kira 6-7 jam. Jalur wekas merupakan jalur pendek sehingga jarang terdapat
lintasan yang datar membentang. Lintasan pos I cukup lebar dengan bebatuan yang
mendasarinya. Sepanjang perjalanan akan menemui ladang penduduk khas dataran
tinggi yang ditanami Bawang, Kubis, Wortel, dan Tembakau, juga dapat ditemui
ternak kelinci yang kotorannya digunakan sebagai pupuk. Rute menuju pos I cukup
menanjak dengan waktu tempuh 2 jam.
Pos I merupakan sebuah dataran dengan sebuah
balai sebagai tempat peristirahatan. Di sekitar area ini masih banyak terdapat
warung dan rumah penduduk. Selepas pos I, perjalanan masih melewati ladang
penduduk, kemudian masuk hutan pinus. Waktu tempuh menuju pos II adalah 2 jam,
dengan jalur yang terus menanjak curam.
Pos II merupakan sebuah tempat yang terbuka
dan datar, yang biasa didirikan hingga beberapa puluhan tenda. Pada hari Sabtu,
Minggu dan hari libur Pos II ini banyak digunakan oleh para remaja untuk
berkemah. Sehingga pada hari-hari tersebut banyak penduduk yang berdagang
makanan. Pada area ini terdapat sumber air yang di salurkan melalui pipa-pipa
besar yang ditampung pada sebuah bak.
Dari Pos II terdapat jalur buntu yang menuju
ke sebuah sungai yang dijadikan sumber air bagi masyarakat sekitar Wekas hingga
desa-desa di sekitarnya. Jalur ini mengikuti aliran pipa air menyusuri tepian
jurang yang mengarah ke aliran sungai di bawah kawah. Terdapat dua buah aliran
sungai yang sangat curam yang membentuk air terjun yang bertingkat-tingkat,
sehingga menjadi suatu pemandangan yang sangat luar biasa dengan latar belakang
kumpulan puncak - puncak Gn. Merbabu.
Selepas pos II jalur mulai terbuka hingga
bertemu dengan persimpangan jalur Kopeng yang berada di atas pos V (Watu
Tulis), jalur Kopeng. Dari persimpangan ini menuju pos Helipad hanya memerlukan
waktu tempuh 15 menit. Perjalanan dilanjutkan dengan melewati tanjakan yang sangat
terjal serta jurang di sisi kiri dan kanannya. Tanjakan ini dinamakan Jembatan
Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke kiri menuju Puncak Syarif
(Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak Kenteng Songo ( Gunung Kenteng
Songo) yang memanjang.
*Jalur Kopeng Cunthel
Untuk menuju ke Desa Cuntel berjalan terus
mengikuti jalan berbatu hingga ujung. Banyak tanda penunjuk arah baik di
sekitar desa maupun di jalur pendakian. Di Basecamp Desa Cuntel yang berada di
tengah perkampungan ini, pendaki dapat beristirahat dan mengisi persediaan air.
Pendaki juga dapat membeli berbagai barang-barang kenangan berupa stiker maupun
kaos.
Setelah meninggalkan perkampungan, perjalanan
dilanjutkan dengan melintasi perkebunan penduduk. Jalur sudah mulai menanjak
mendaki perbukitan yang banyak ditumbuhi pohon pinus. Jalan setapak berupa
tanah kering yang berdebu terutama di musim kemarau, sehingga mengganggu mata
dan pernapasan. Untuk itu sebaiknya pendaki menggunakan masker pelindung dan
kacamata.
Setelah berjalan sekitar 30 menit dengan
menyusuri bukit yang berliku-liku pendaki akan sampai di pos Bayangan I. Di
tempat ini pendaki dapat berteduh dari sengatan matahari maupun air hujan.
Dengan melintasi jalur yang masih serupa yakni menyusuri jalan berdebu yang diselingi
dengan pohon-pohon pinus, sekitar 30 menit akan sampai di Pos Bayangan II. Di
pos ini juga terdapat banguanan beratap untuk beristirahat.
Dari Pos I hingga pos Pemancar jalur mulai
terbuka, di kiri kanan jalur banyak ditumbuhi alang-alang. Sementara itu
beberapa pohon pinus masih tumbuh dalam jarak yang berjauhan.
Pos Pemancar atau sering juga di sebut gunung
Watu Tulis berada di ketinggian 2.896 mdpl. Di puncaknya terdapat stasiun
pemancar relay. Di Pos ini banyak terdapat batu-batu besar sehingga dapat
digunakan untuk berlindung dari angin kencang. Namun angin kencang kadang
datang dari bawah membawa debu-debu yang beterbangan. Pendakian di siang hari
akan terasa sangat panas. Dari lokasi ini pemandangan ke arah bawah sangat
indah, tampak di kejauhan Gn.Sumbing dan Gn.Sundoro, tampak Gn.Ungaran di
belakang Gn. Telomoyo.
Jalur selanjutnya berupa turunan menuju Pos
Helipad, suasana dan pemandangan di sekitar Pos Helipad ini sungguh sangat luar
biasa. Di sebelah kanan terbentang Gn. Kukusan yang di puncaknya berwarna putih
seperti muntahan belerang yang telah mengering. Di depan mata terbentang kawah
yang berwarna keputihan. Di sebelah kanan di dekat kawah terdapat sebuah mata
air, pendaki harus dapat membedakan antara air minum dan air belerang.
Perjalanan dilanjutkan dengan melewati
tanjakan yang sangat terjal serta jurang di sisi kiri dan kanannya. Tanjakan
ini dinamakan Jembatan Setan. Kemudian kita akan sampai di persimpangan, ke
kiri menuju Puncak Syarif (Gunung Pregodalem) dan ke kanan menuju puncak
Kenteng Songo ( Gunung Kenteng Songo) yang memanjang.
Dari puncak Kenteng songo kita dapat memandang
Gn.Merapi dengan puncaknya yang mengepulkan asap setiap saat, nampak dekat
sekali. Ke arah barat tampak Gn.Sumbing dan Sundoro yang kelihatan sangat jelas
dan indah, seolah-olah menantang untuk di daki. Lebih dekat lagi tampak
Gn.Telomoyo dan Gn.Ungaran. Dari kejauhan ke arah timur tampak Gn.Lawu dengan
puncaknya yang memanjang.
Bagi Anda yang bingung untuk
menghabisakan weekend, Saya sarankan untuk berkunjung ke tempat ini, namun
jangan lupa untuk memilih waktu terbaik untuk melakukan pendakian. Waktu
terbaik untuk melakuakan pendakian yaitu saat musim kemarau, namun tetap siap
sedia jaket polar dengan bahan tahan air, karena suhu saat musim kemarau bisa
sangat dingin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar